Thursday, January 22, 2015
PPM Diharapkan Jadi Agen Pembangunan Jakarta
MENTENG (Pos Kota) – Wagub DKI Djarot Syaiful Hidayat mengharapkan organisasi Pemuda Panca Marga (PPM) dapat menjadi agen pembangunan kota Jakarta. Lembaga yang didirikan anak-anak Legiun Veteran yang telah berusia 34 tahun ini diminta terus bersinergi dengan Pemprov DKI sebagai abdi masyarakat.
Hal itu disampaikan Djarot yang diwakili Walikota Jakarta Pusat, Mangara Pardede, saat menghadiri perayaan HUT ke-34 PPM. “Pak Wagub juga menyampaikan rasa salut kepedulian PPM terhadap BKR/TKR yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI. Beliau mengucapkan selamat ulang tahun PPM. sukses selalu,” ujar Mangara pada puncak acara yang berpusat di Museum Barisan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR) di kawasan Menteng, Kamis (22/1).
Dalam rangka meyarakan HUT, PPM melakukan rangkaian bakti sosial membersihkan dan mengecat sejumlah gedung bersejarah. “Kami membersihkan sejumlah situs di Jakarta yang kondisinya telantar,” ujar Ketua Mada PPM DKI Jakarta Syaharudin Arsyad. Tujuannya agar monumen berupa museum maupun makam tokoh, agar lebih bersih dan awet sehingga nyaman bagi pengunjung.
Kegiatan yang berlangsung sejak sepekan lalu, PPM mengerahkan ratusan personil ke lima wilayah. “Kami mengerahkan sekitar 100 personil di tiap wilayah untuk membersihkan sampah, merapikan tanaman dan mengecat gedung yang sudah kusam,” kata Arsyad pada acara yang dihadiri ratusan undang, termasuk sejumlah pejabat pemprov, TNI, polri, dan lainnya.
Ketua panitia Syahindun Iin Al Halim menambahkan untuk wilayah Jakpus targetnya adalah Museum BKR/TKR, sekaligus pemancangan batu prasasti. “Untuk Jakut adalah Makam Si Pitung, Jakbar Makam P. Wijayakusuma, Jaksel Makam Jenderal Achmad Yani, dan Jaktim Makam P. Jayakarta,” ujar Iin yang juga Wakil Ketua Mada PPM DKI Jakarta. Acara diakhiri dengan pemotongan nasi tumpeng. (joko)
Saturday, January 17, 2015
Bripda Taufik yang 'Menampar' Nurani
By Putu Merta Surya Putra
Liputan6.com, Jakarta - Dia bukan jenderal, politisi, apalagi selebritis. Namun, kesederhanaan hidup yang dia jalani berhasil mencuri perhatian publik. Siapa yang tak terenyuh mengetahui seorang polisi muda berpangkat brigadir polisi dua (bripda) tinggal di bekas kandang kambing bersama ayah dan 3 adiknya.
Ini bukan sinetron atau telenovela, tapi kisah nyata yang bisa ditelusuri ke Desa Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta. Di kampung inilah Bripda Muhammad Taufik Hidayat tinggal sejak 2 tahun terakhir, di sebuah bangunan yang dia sewa Rp 170 ribu per tahun.
Menamatkan pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro akhir 2014 lalu, Taufik menegaskan bergabung dengan korps kepolisian adalah cita-citanya sejak lama.
"Cita-cita saya memang jadi anggota Polri. Insya Allah bisa memberi kebanggaan pada keluarga," ucap Taufik saat ditemui di rumahnya Kamis 15 Januari 2015.
Polisi yang sehari-hari bertugas di Direktorat Sabhara Polda DIY ini mengaku dengan menjadi polisi dirinya berharap bisa membantu ekonomi keluarga yang selama ini sangat pas-pasan. "Saya tak mau terpuruk oleh keadaan dan harus bisa bangkit," tegas anggota polisi kelahiran 20 Maret 1995 ini.
Wajar kalau Taufik ingin mengubah hidup. Dilihat dari kondisinya saat ini, kehidupan Taufik bersama ayah dan 3 adiknya bisa dibilang memprihatinkan. Bayangkan, rumah kontrakan yang ditempati Taufik adalah bangunan semi permanen yang dulunya digunakan sebagai kandang sapi oleh kelompok peternak di kampungnya.
Bahkan, tak jauh dari rumahnya terlihat beberapa kandang sapi lain milik warga. Aroma khas kandang sapi pun menjadi pewangi seisi rumah. Batako yang melapisi rumah itu tidak mampu menutup seluruh bangunan rumah. Bahkan, banyak rongga di dinding yang tak bisa ditutupi.
Tak terlihat pula daun pintu, selain kain seadanya yang digantung untuk menutupi jalan masuk ke dalam rumah. Selain itu, jika hujan turun, dipastikan air akan gampang masuk karena atap rumah yang sudah banyak bocor.
Di dalam rumah kondisinya tak kurang memprihatinkan. Selain ruangan yang sempit, hanya satu kasur yang tersedia untuk ditiduri penghuni rumah. Seragam dinas Taufik pun hanya digantungkan di seutas kabel yang melintang di tengah rumah.
Kini, bangunan berukuran 3x4 meter itu menjadi istana bagi Taufik bersama ayahnya Priyanto dan ketiga adiknya Muhammad Agus Prasetyo (kelas 2 SD), Muhammad Hafis Hidayat (kelas 3 SD) dan Latifah Nur Hidayah (kelas 1 SMK).
"Rumah sudah nggak muat buat ditiduri. Saya sering sedih, soalnya kalau saya tidur di dalam rumah, Bapak terpaksa tidur di luar rumah," jelas Taufik.
Akibat Perceraian Orangtua
Taufik menceritakan awal mula keluarganya tinggal di bekas kandang sapi. Yakni lantaran orangtuanya bercerai. Taufik dan adiknya ikut sang ayah. Setelah itu, rumah dijual dan uang hasil jual rumah hanya bisa digunakan untuk membeli mobil pikap sebagai modal usaha dan sewa lahan di kandang sapi itu.
"Rumah waktu itu kan sejak Bapak Ibu cerai rumah dijual sama Ibu. Rencananya mau bikin rumah lagi nggak bisa. Akhirnya saya sama adik-adik dan Bapak di situ dan Ibu saya nikah lagi. Anak-anak semuanya ikut Bapak," ujar polisi yang punya hobi nyanyi itu.
Sudah cukup lama Taufik tinggal terpisah dengan ibunya. Walau demikian, Taufik tetap berkomunikasi dengan wanita yang melahirkannya itu. Bahkan saat diterima jadi polisi, ia sempat menelepon sang bunda.
Meski dengan kondisi keluarganya seperti ini, Taufik mengaku dirinya tak mengizinkan adik-adiknya ikut dengan ibunya. Hal itu lantaran Taufik ingin dirinya yang bertanggung jawab untuk mengurus adik-adiknya.
"Ibu tahu saya jadi polisi, ya jelas senengnya anaknya jadi polisi. Selama saya sudah di polda ini belum pernah ketemu, soalnya di Bogor. Komunikasi lewat HP sering. 1 tahun nggak ketemu dengan ibu. Ibu pernah datang ke rumah. Saya nggak bolehin ikut Ibu, ya alasanya saya yang tahu. Intinya saya ingin tanggung jawab adik-adik saya," jelas dia.
Terpisah dari sang Ibu, dia mengaku pernah melihat adik-adiknya menangis karena merasa kangen. Namun dia berusaha selalu menghibur agar adiknya tetap tegar dan kuat. "Adik saya nangis ya paling kangen sama Ibu saya. Tapi kan dia banyak main sama temennya. Jadi nggak gitu sedih ya. Ada lah rasa sedih tapi nggak pernah nangis kenceng," kata Taufik.
Selain itu, Taufik mengaku pernah memiliki seorang kekasih. Namun karena ingin fokus mengejar cita-cita sejak masuk sekolah polisi, ia akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkan perihal hubungan cinta.
"[Belum punya pacar]( 2161677 ""). Dulu pernah punya pacar pas masuk sekolah itu saya fokus ke sekolah. Nggak kepikiran lagi. Belum kepikiran. Yang penting adik-adik saya sekolah dulu," tandas Taufik.
Bangga Jadi Polisi
Namun, semua itu tak membuat semangatnya menjalankan tugas sebagai anggota Polri menjadi tergerus. Sebaliknya, setiap pagi dengan langkah tegap dia menyusuri jalan menuju tempat tugasnya.
"Ya, kadang jalan kaki, kadang berlari ke Polda (DI Yogyakarta) sekitar 5-7 kilometer. Pernah juga saya dihukum karena terlambat," ucap Taufik yang mengaku tak punya kendaraan sendiri menuju tempatnya bertugas.
Bahkan tak jarang dia meminjam sepeda milik tetangganya. "Pernah minjam tetangga. Tapi nggak enak juga karena selalu minjem, Mas. Ya sudahlah jalan saja," ujar Taufik.
Putra dari pasangan Priyanto dan Martinem ini mengaku tidak pernah menangisi keadaan agar adik-adiknya dapat meniru ketegaran hati demi masa depan. "Adik saya juga jalan kaki ke sekolah. Jaraknya juga satu kilometer. Tapi sekarang sudah punya sepeda," ucap alumni SMKN 1 Sayegan itu.
Taufik menegaskan, semua kondisi itu diterimanya dengan lapang dada lantaran kebanggaan menjadi anggota polisi telah mengalahkan semua kekurangan yang ada.
"Waktu baru jadi polisi saya sempat nggak percaya. Bahkan, setelah dilantik juga belum percaya, sampai-sampai saya minta Bapak untuk menampar saya biar yakin kalau ini bukan mimpi," cerita Taufik.
Semangatnya makin bertambah karena dia tahu sang ayah dan adik-adiknya sangat mendukung serta memiliki kebanggaan yang sama atas profesi yang kini dia jalani. Hingga kini, Taufik masih ingat dengan ucapan ayahnya yang seorang buruh bangunan itu.
"Waktu dilantik (jadi polisi) saya dipeluk Ayah. Kata Ayah saya, kalau seorang anak jadi lebih baik dari orangtuanya, itu akan membuat bangga orangtua manapun," ujar Taufik dengan mata berkaca-kaca.
Apa yang disampaikan Taufik dibenarkan ayahnya. Priyanto mengaku memilih tinggal di antara puluhan kandang sapi dan kambing karena tidak ingin bergantung kepada orang lain. Ia mengaku sebenarnya memiliki sanak keluarga yang bisa memberinya tumpangan, Tapi dia tidak mau bergantung dan menyusahkan orang lain.
"Nggak pengin ke rumah saudara. Sebenarnya ada saudara punya rumah luas, tapi saya cuma pengin sendiri. Tidak ingin menyusahkan orang lain," ujar dia.
Rasa bangga terasa dari kata-kata Priyanto saat membicarakan anak sulungnya itu. Ia teringat saat disuruh Taufik menampar Taufik, setelah sang anak lulus dari sekolah kepolisian dan dilantik menjadi anggota polisi. Saat mengenang peristiwa itu, Priyanto tiba-tiba menitikkan air mata.
"Nggak ngira kalau Taufik lulus. Saya terenyuh, sampai anak saya jadi ini," ujar ayah Taufik.
Priyanto mengaku, semua yang terjadi karena sikap sederhana yang selalu diajarkan kepada anak-anaknya. Prihatin, itulah kata yang selalu diucapkan Priyanto dan terekam ke kepala anak-anaknya hingga Taufik diterima di kepolisian.
"Saya prihatin istilahe orang Jawa. Betah ngeleh (kuat lapar) dikit dikit gitu lho. Ya saya nggak makan 3 hari saya lakoni supaya anak bisa makan," ujar dia sembari sesunggukan.
Pada akhir pertemuan, terucap harapan tulus dari sang ayah agar kelak anaknya dapat sekolah lagi dan bisa sukses dalam karier. Ia berharap agar anaknya dapat bekerja keras dalam menjalankan tugasnya.
"Ya harus kerja keras. Harapannya, ya moga bisa kuliah lagi sekolah lagi apa yang dicapai mundak pangkat itu lho," ungkapnya dengan polos.
Taufik mengaku tidak masalah dengan keadaan hidupnya bersama sang ayah dan adik-adiknya. Ia mengakui, rumah yang dihuninya tidak memadai untuk adik-adiknya yang masih kecil. Nyamuk sudah menjadi kawan akrab, dan ular sesekali datang ke rumahnya.
Ia pun mengaku jika keluarganya masih menggunakan sungai untuk kebutuhan MCK. "Kalau ke belakang ya di sungai sebelah rumah itu, Mas. Di sebelah timur rumah itu kan ada kali ya di situ," ujar Taufik datar.
Di lingkungannya, Taufik dikenal baik dan soleh oleh para tetangga. Anggota Dit Sabhara Polda DIY itu juga aktif dalam kegiatan kepemudaan di Kampung Jongke Tengah.
"Pribadinya bagus, agamanya bagus, sama orangtuanya dan pemuda aktif juga. Anaknya rajin, soleh. Silakan saja tanya tetangga lainnya," kata seorang tetangga Taufik bernama Basuni di Sleman.
Sebagai tetangga, Basuni mengaku mengenal betul perjalanan hidup Taufik sekeluarga. Dia mengungkapkan, sang polisi harus hidup di bekas kandang sapi sejak perceraian kedua orangtuanya.
"Rumahnya kan dijual ibunya, akhirnya nggak punya rumah dan tinggal di kandang ini. Sebagai tetangga, [saya ya kasihan, Mas]( 2161869 ""). Tapi juga nggak bisa bantu, cuma sedih saja," ujar dia.
Perhatian Terus Berdatangan
Kabar tentang kondisi hidup Taufik yang memprihatinkan ternyata sampai ke telinga atasan serta rekan-rekan sekerjanya. Ingin membuktikan kebenaran cerita itu, Dir Sabhara Polda DIY Kombes Pol Yulza Sulaiman memutuskan mendatangi kediaman anak buahnya itu.
Bersama sejumlah staf Sabhara Polda DIY, Yulza pun mendatangi sendiri 'istana' milik Taufik. Sesampainya di depan bekas kandang sapi itu, hati Yulza pun terenyuh. Namun, di antara perasaan itu, rasa bangga menyelimuti sang atasan.
"Saya bangga karena Bripda Taufik memiliki kemauan dan etos kerja lebih dari temannya. Terlihat dari upaya dia ke kantor dengan jalan kaki dengan jarak yang jauh," kata Yulza.
Setelah melihat sendiri hidup yang harus dijalani bawahannya itu, Yulza berniat untuk meminjamkan 1 sepeda motornya kepada Taufik.
"Setelah tahu kondisi ini saya siapkan sarana tempat tinggal di atas di aula barak. Saya pinjamkan kendaraan roda dua selama dia beraktivitas di sini. Ke depannya kita akan lakukan lebih lagi," ujar Yulza.
Yulza pun mengimbau rekan-rekan Taufik yang lain untuk meniru semangat polisi muda tersebut. "Motivasi dia tetap disiplin datang tepat waktu. Dia mempunyai motivasi yang tinggi untuk merubah dirinya sendiri. Ini harapannya mempengaruhi di korpsnya bisa memberi motivator ke rekan kerja lainnya. Keterbatasan sisi material tidak pengaruhi kondisi," ujar dia.
Di sisi lain, Yulza meminta Taufik tetap rendah hati jika nanti sukses. Pemberitaan mengenai sosoknya yang sederhana jangan sampai membuat lupa diri. Dia mengingatkan adanya kasus polisi yang tenar setelah jadi bahan pemberitaan, lalu berubah jalur ke dunia hiburan, yaitu Norman Kamaru. Yulza meminta kepada Taufik agar belajar dari kasus Briptu Norman tersebut.
"Kalau dia kan sudah briptu, kakaknya dia kan. Nah dia kan baru bripda masih baru, makanya jangan sampai dia lupa siapa dirinya. Baju dia apa, polisi kan," ujar Yulza di Yogyakarta.
Dia mengingatkan kepada Taufik agar tidak berpaling dari cita-citanya, tetap konsisten, dan kerja keras. Ia ingin melihat anak buahnya sukses di kepolisian. "Apa yang sudah kamu pupuk cita cita dari awal jangan pernah padam. Sekarang kamu jadi polisi maka kamu tingkatkan," imbaunya.
Wakil Direktur Sabhara Polda DIY AKBP Pri Hartono juga berpesan kepada Taufik untuk memegang prinsip hidup yang sudah dipegangnya. Dia berharap, Taufik tidak melupakan siapa dirinya yang berasal dari korps kepolisian.
"Yang jelas jangan sampai lupa siapa dirimu. Jadilah dirimu sendiri prinsip komitmen bahwa kamu adalah anggota insan Bhayangkara. Jangan lupa diri," kata dia.
Tidak hanya mengundang simpati atasan dan rekan kerjanya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok juga menaruh empati atas kondisi Taufik. Pri Hartono mengatakan, Ahok melalui staf khususnya telah menghubungi untuk memberikan bantuan kendaraan bagi Taufik.
"Tadi stafnya Pak Ahok, Bu Ririn mau kasih bantuan. Silakan kalau mau milih kendaraan apa. Saya yakin dia tidak mau memilih mobil. Tidak akan mau. Dia dapat rezeki ya diterima saja. Silakan," ujar Pri kepada Wartawan di Mako Polda DIY.
Semangat hidup Taufik juga mengundang perhatian Kompol Dedy Muryi Haryadi yang bertugas di Poso, Sulawesi Tengah. Dia berjanji akan memberi Taufik seekor kambing.
Pri menyebutkan bantuan kambing itu mungkin ditujukan untuk Priyanto, ayah Taufik agar bisa beternak. "Ada Pak Ahok sama yang mau ngasih kambing tadi junior saya di Poso," ujar dia.
Selain para tokoh, sejak jauh hari empati juga diperlihatkan rekan-rekan dan senior Taufik di Polda DIY. Mereka patungan membantu sang junior yang saat ini tak memiliki uang sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Dia dikasih kakak-kakak seniornya. Bantingan (patungan) kakak-kakak seniornya. Sampai terkumpul Rp 370 ribu. Buat dia makan dan keperluan lain. Dia kan nggak punya duit. Kakak seniornya menjamin selama di sini makannya ditanggung," ujar Pri yang diamini Taufik.
Namun, semua pemberian itu diharapkan Pri tidak membuat Taufik lupa diri. "Pemberian itu pasti dia tetap terima. Boleh empati, tapi jangan sampai menganggu dia," pungkas Pri.
Taufik memang beda, karena dia muncul ketika publik sedang terlena dengan cerita tentang pejabat kepolisian yang diduga punya simpanan uang berlimpah. Selain itu, tanggung jawab yang diperlihatkan Taufik kepada ayah dan adik-adiknya menyadarkan banyak orang kalau nilai-nilai keluarga belum sepenuhnya hilang.
Mungkin setelah ini kehidupan Taufik akan berbeda dan wajar kalau kita berharap kehidupannya akan menjadi lebih baik. Lebih dari itu, kita lebih berharap Taufik tetaplah menjadi polisi yang baik, dengan kehidupan yang lebih baik juga tentunya, agar dia bisa fokus bekerja sebagai bhayangkara negara.
Thursday, January 01, 2015
Dedy Risdijanto, Kolektor dan Tukang Repro Benda Langka Perang Dunia II
Koleksi Paling Antiknya Justru Pemberian dari Orang
Laporan Priska Birahy, Jawapos.com - Surabaya
Perang Dunia II merupakan perang kolosal terakhir dalam sejarah manusia. Itu masih memikat bagi sebagian orang. Salah seorang di antaranya Dedy Risdjijanto, seorang bos usaha kreatif di Surabaya. Dia lebih memilih mengoleksi benda Perang Dunia II ketimbang punya mobil mewah. Dia bukan hanya kolektor, tapi juga renaktor (pereka ulang sejarah, Red).
_______________________
RUMAH di Kedungdoro Gang IX Nomor 9 bak museum Perang Dunia II. Di teras depan bangunan seluas 6 x 20 meter itu, bertengger sebuah sepeda kuno tentara Jepang saat PD II. Juga ada tas-tas milik tentara Dai Nippon yang digantung artistik. Di belakang rumah, banyak pernik-pernik khas tentara Perang Dunia II di Indonesia.
Pemiliknya, Dedy Risdijanto, memang bukan hanya pencinta sejarah biasa. Tapi, dia juga maniak Perang Dunia II. Baginya, perang antarbangsa pada 1942–1945 tersebut sangat memukau. ’’Sulit diungkapkan dengan kata-kata,’’ ucapnya. Itulah yang kemudian membuatnya mengumpulkan pernik-pernik terkait dengan PD II.
Hanya, Dedy mengkhususkan diri pada pernik-pernik tentara dalam ajang pertempuran PD II di Indonesia. Khususnya pernik-pernik tentara Jepang. Negeri Matahari Terbit itu dalam Perang Dunia II memang merupakan satu di antara tiga negara sekutu AS bersama Jerman dan Italia. Jepang dominan pada awal-awal PD II dan menguasai banyak teritori di kawasan Asia Pasifik, terutama Indonesia.
’’Sejak awal jadi kolektor, saya sudah cocok dengan baju tentara Jepang. Kata teman-teman, wajah saya juga menunjang,’’ ucap pria 43 tahun tersebut, lantas tertawa. Tapi, bukan berarti dia tidak tertarik pernik-pernik milik tentara Inggris atau Amerika. Hanya, dia lebih menyukai seragam dan peralatan tempur angkatan bersenjata Jepang.
Koleksinya pun aneh-aneh dan terbilang sulit dicari. Misalnya, goggle (alat bantu penglihatan, Red) dan helm pilot pesawat tempur Jepang. ’’Saya diberi orang. Katanya amanah peninggalan sang kakek. Belum ada yang punya seperti ini,” ungkap pria yang guratannya sepintas seperti orang Jepang itu.
Dia mengakui, dua benda yang didapatnya itu terlihat begitu usang. Tali penyambung kacamata maupun kulit topi rapuh dan hampir copot. Menurut dia, kedua benda merupakan barang yang dipakai semasa zaman penjajahan Jepang pada Perang Dunia II.
Namun, tidak diketahui secara pasti penggunanya. Sebab, sang pemilik, yakni generasi ketiga dari sang empunya, menghibahkan dua barang langka itu begitu saja. Tujuannya dijaga. ”Katanya sering lihat saya bergaya ala Jepang di Facebook. Jadi, dia berikan,” ungkap owner DR. Cre@tion itu.
Namun, dia berkeyakinan si pemilik pertama dua benda tersebut merupakan pelaku sejarah pada era penjajahan Jepang. Jejak yang tersisa hanyalah tulisan Jepang dengan huruf kanji yang menempel bersama logo di bagian dalam topi kulit cokelat itu.
Gambarnya pun sama sekali tidak mencolok mata. Hanya berupa lembaran kain putih yang berisi tulisan dalam kolom. Lelaki yang mulai bergabung menjadi renaktor (pereka ulang sejarah, Red) pada 2004 itu bahkan bertanya kepada seorang rekan di Jepang. ”Katanya itu tulisannya nomor ukuran saja,” terangnya sambil menyulam sebuah tas kulit pesanan orang.
Tak berhenti di situ, untuk memastikan keasliannya, lelaki yang dikenal dengan sebutan Dedy Kopral Risdijanto itu lantas melacak keberadaannya di ebay hingga situs sejarah lainnya. Hasilnya idem. Bahkan, di kalangan renaktor dan beberapa pelaku sejarah, benda tersebut hampir tidak ada.
Tidak heran, begitu di-posting di media sosial, berbagi komentar hinggap di wall-nya. Mereka tidak lain ingin memilikinya. Berbagai tawaran hingga barter dengan sesama benda PD II pun ditolaknya. ”Namanya amanah ya harus dijaga. Dan ini tak ternilai. Soalnya, susah didapat,” jelas pria yang awalnya menjadi onthelist (pengayuh sepeda onthel, Red) pada 1992 itu.
Bukan hanya goggle dan topi, sebuah holster nambu (tempat pistol Jepang) berbahan kulit pun masih terlihat kukuh. Sarung senjata yang dipakai sekitar 1943 itu punya sejarah. Berdasar hasil pencarian di internet dan bertanya langsung kepada saksi sejarah, holster warisan tersebut pernah dipakai tentara PETA. Yakni, tentara Jepang yang berbalik dan membela tanah air demi kemerdekaan.
Lelaki yang rela resign untuk meneruskan hobinya itu juga menemukan holster miliknya dipakai tentara Heiho atau pasukan bentukan tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Meski demikian, barang-barang itu terbatas. Dia pun mengaku kesulitan untuk mencari sisa peninggalan di Surabaya. Alhasil, target buruannya berpindah ke luar kota hingga luar pulau.
Misalnya, gunto (pedang yang dipakai samurai) asli yang didapatnya dari hasil buruan di Sumbawa, NTB. Bentuknya persis gunto yang dipakai saat prajurit Jepang bertarung untuk merebut kekuasaan. Pedang miliknya itu adalah shin gunto, jenis pedang milik perwira yang dililit ratusan untaian benang. Mulai pegangan hingga ujung sarung pedang. ”Pedangnya sampai berkarat. Banyak yang minta, tapi enggak bisa saya lepas,” aku pemilik tujuh sepeda kuno yang sering dijadikan properti fotografi itu.
Di sarung gunto yang sudah kusam tersebut terdapat beberapa bercak cokelat. Itu lebih mirip sisa cairan yang tumpah dan mengering. Dedy pun tidak tahu pasti apakah itu cairan atau darah. Baginya, senjata-senjata tersebut punya nilai tersendiri.
Koleksi lainnya adalah water canteen atau botol air minum bercap tulisan Jepang di bagian bawah. ”Sama, ini juga dapatnya di pasar loak Malang. Tapi, ini asli dan carinya susah,” sambung alumni SMA Negeri 4 Surabaya itu.
Sambil memasang putee (kain yang dililitkan di kaki), ketua Kosti (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) Jatim itu mengakui hobinya tersebut membuatnya lebih mengenal sejarah bangsa. Jika dahulu sejarah hanya didapat dari tulisan di buku, kini dia bisa mereka ulang. ”Belajar sejarah itu jadi lebih fun. Saya juga bisa merasakan perjuangan para pejuang dahulu,” tuturnya. Kini selain masih memburu barang bekas PD lain, dia aktif memproduksi barang repro. Mulai tas, senjata, topi, hingga tempat magazin, dan peluru. Itulah yang membuat dia dikenal sebagai spesialis repro yang mungkin hanya ada satu di Surabaya. ”Saya masih ingin cari topi perang Jepang,” katanya sambil mengenakan field cap Jepang.
Namun, dia tidak hanya berhenti menjadi kolektor. Dia bahkan bisa hidup dengan koleksinya. Yakni, membuat produk ulang benda bersejarah tersebut. Misalnya, tas perang Jepang. Dia melihat aslinya, kemudian mereproduksi benda tersebut dan menjualnya. Hasilnya ternyata lumayan. ’’Tidak usahlah saya sebutkan. Yang penting, saya bisa hidup dari hobi ini,’’ ucapnya, lantas tersenyum. (*/c6/ano)
Friday, December 26, 2014
Kisah dramatis & lucu Kopassus sergap musuh di belantara Jabar
Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Usianya sudah 85 tahun, namun tubuhnya masih tegap. Di dada kiri seragam hijaunya, masih tersemat wing terjun dan brevet komando. Pria itu bernama Supardi. Seorang pensiunan letnan TNI yang kenyang dengan bau mesiu di medan tempur.
"Saya Letkol, bukan letnan kolonel tapi letnan kolot," canda Supardi saat berbincang dengan merdeka.com, di sela-sela kegiatan Bogor Membara: 1945! yang digelar Bogor Historical Community di Museum Perdjoangan Bogor, Kamis (25/12).
Letnan kolot dalam bahasa Sunda artinya letnan tapi tua. Sebutan untuk mereka yang pensiun dengan pangkat letnan.
Supardi dulu masuk generasi awal pasukan khusus TNI AD. Dulu namanya masih Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Kini pasukan inilah yang dikenal sebagai Kopassus.
KKAD dibentuk atas prakarsa Panglima Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang. Tahun 1953 pasukan TNI di Jawa Barat kesulitan menghadapi perlawanan gerilya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Gerilyawan DI/TII sangat ahli bergerak di belantara hutan Jawa Barat. Pasukan reguler TNI kesulitan mengejar mereka. Karena itu Kawilarang menilai perlu ada pasukan khusus yang mampu bergerak dalam unit-unit kecil. Bisa menusuk jauh ke daerah pertahanan lawan dan bertempur dengan efektif terus menerus.
Latihan KKAD digelar di Batujajar dan Situ Lembang, Bandung Utara. begitu lulus komando, pasukan baru ini diterjunkan memburu DI/TII di Garut dan Tasikmalaya. Namanya pasukan khusus, penyergapan pun lain dengan pasukan reguler.
"Dulu pasukan bergerak pelan-pelan dalam hutan. Ranting atau daun yang diinjak dirapikan kembali, sehingga tak ada bekas pernah dilalui. Pengintaian pun dilakukan dari jarak dekat," kenang Supardi.
Dalam sebuah penyergapan, pasukan baret merah ini pernah bersembunyi dekat sekali dengan musuh. Hebatnya, kehadiran mereka sama sekali tak dirasakan patroli DI/TII.
"Jaraknya paling hanya lima meter. Saking dekatnya kita bisa rasakan sepatu-sepatu musuh itu seolah hampir menginjak kita yang tiarap. Kita tunggu seluruh patroli musuh melintas, baru disergap dari belakang," jelasnya.
Ada cerita unik dari misi penyergapan lain. Saat itu para anggota DI/TII sedang menggelar acara kenduri di markas yang terletak di tepi hutan. Mereka menyembelih kerbau dan membuat sate. Pasukan KKAD yang mengintai dari jarak dekat menunggu sampai sate matang. Setelah tercium aroma sate dan melihat musuh tak siap, mereka langsung merangsek maju.
"Langsung kita maju, kita todong. Angkat tangan semua! Mereka menyerah tanpa perlawanan. Kita makan satenya. Pasukan DI/TII yang ditahan melihat kita dengan pandangan kesal karena satenya dimakan. Kita balas pelototi, apa lihat-lihat, " kata Supardi.
Selain operasi militer, pendekatan teritorial pun dilakukan TNI. Mereka mengimbau agar sisa-sisa pasukan DI/TII yang masih bertahan segera menyerah. Kunci menghadapi gerilyawan adalah mengambil hati rakyat.
Sunday, December 21, 2014
Sunday, December 14, 2014
Pakai Seragam PPM, Panahatan Dikeroyok
Laporan Wartawan Tribun Batam, Zabur Anjasfianto
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Panahatan Simanjuntak (20), babak belur dihajar tiga orang tak dikenal. Insiden ini hanya gara-gara mengenakan pakaian seragam PPM di perumahaan MKGR, Batu Aji, Batam, pukul 05.00 WIB dinihari, Minggu (14/12/2014).
Tidak terima atas pengeroyokan itu, Panahatan Simanjuntak yang ditemani Evi Sanjaya dan Nazara, rekan sesama anggota PPM, langsung melaporkan ke Polsek Batu Aji.
Evi Sanjaya salah satu rekan Panahatan Simanjuntak mengatakan kalau temannya itu dikeroyok pelaku yang sedang nongkrong sambil minum di warung pinggir jalan.
Saat itu Panahatan ditunjuk warga untuk melakukan patroli geng motor yang selama ini menganggu ketentraman masyarakat.
Namun, karena sudah larut malam dan tempat kosnya sudah tutup atau tidak ada yang membuka pintu. Panahatan pun memilih datang ke rumah temannya.
Saat sedang jalan menggunakan motor itu, langsung diejek tiga orang pelaku tersebut. Bahkan, pelaku sempat mengatakan jangan sok dan banyak gaya mengenakan seragam PPM.
Pelaku menyebutkan seragam tersebut tak ada gunanya. Mendengar ejekan itu Panahatan, mencoba kendalikan emosinya dan tidak mau terpancing.
Karena tidak tahan terus di ejek-ejek, Panahatan pun langsung keluar dari tempat kos temannya.
"Dia (Panahatan), awalnya patroli mengamankan agar tidak ada geng motor. Setelah selesai, Panahatan nginap di rumah temannya."
"Saat baru masuk komplek ruli itu. Pelaku langsung mengejek Panahatan yang nongkrong sambil main gitar itu," kata Evi saat mendampingi Panahatan di periksa polisi.
Thursday, December 11, 2014
Bangkai Kapal Selam Nazi Jerman Ditemukan di Laut Jawa
Reporter : Eko | Kamis, 11 Desember 2014
Dream - Pasukan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut menemukan bangkai kapal selam milik Nazi Jerman di Laut Jawa. Kapal selam berjenis Unterseeboot atau U-Boat itu hadir di Indonesia untuk membantu Jepang yang pernah Tanah Air pada Perang Dunia II.
Menurut Mayor Yudo Ponco, kapal selam itu berada di perairan Karimun Jawa. Tim Kopaska telah melakukan penjelajahan dan penyelaman di lokasi bangkai kapal yang terletak di utara Karimun itu pada 30 Mei 2014.
“Panjang bangkai kapal hanya tersisa 30 meter di kedalaman 25 meter Laut Jawa,” ujar Yudo di Kantor Kementerian Koordinator Maritim, Jakarta Pusat, Kamis 11 Desember 2014.
Kapal itu memang hanya tinggal separuh saja. Sebab, banyak bagian bangkai kapal itu telah dicuri. Selain badan kapal, Tim ekspedisi juga menemukan banyak botol yang diduga sebagai tempat wine, parfum, dan botol sake.
Yudo mengatakan, kapal selam tersebut beroperasi di Indonesia karena dimintai oleh Jepang untuk membantu menghadapi pasukan Sekutu pada Desember 1942. Diduga, riwayat kapal itu tamat karena ditorpedo oleh pasukan Sekutu.
“U-Boat memang ada di Jakarta, Surabaya, dan Penang. Yang meminta adalah Jepang sebagai sekutu,” ungkap Yudo di hadapan Menteri Koordinator Kemaritiman, Indroyono Soesilo.
Dia menambahkan, kapal pertama yang diberikan Jerman kepada Jepang adalah U-511. Sementara U-168 diarahkan ke Surabaya saat perjalanan terakhirnya. Namun belum dapat dipastikan apakah bangkai yang ditemukan itu merupakan U-168.
“Cuma temuan dari logo di piring segala macam mengarah ke U-168 karena ada tulisan logo Jerman tahun 1938,” tutur Yudo.
U-Boat merupakan kapal selam andalan angkatan laut Hitler. Kapal selam ini menebar teror di Samudera Atlantik. Puluhan kapal dagang dan kapal perang Sekutu telah banyak ditenggelamkan oleh kapal selam ini.
Sementara, tim dari Pusat Arkeologi Nasional sudah melakukan penelitian terkait penemuan ini pada 4 November lalu dengan melibatkan 15 peneliti serta penyelam dari Yogyakarta. Kini sejumlah barang yang ditemukan telah diangkat untuk diteliti di Kantor Pusat Arkeologi Nasional. Sementara bangkai kapal tetap dibiarkan di tempat semula.
“Baru pertama ini kita menemukan reruntuhan kapal selam Jerman. Kalau kapal perang sisa perang dunia II sudah sering, tapi kapal selam apalagi jenis U-Boat baru kali ini,” kata Ketua Tim Peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo. (Sumber: Merdeka.com)
Tuesday, December 09, 2014
Pemerintah tetapkan 19 Desember sebagai Hari Bela Negara
Merdeka.com - Kementerian Pertahanan Indonesia bakal mencanangkan Gerakan Bela Negara secara nasional. Hal ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara.
Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan Timbul Siahan mengatakan pihaknya akan menetapkan Hari Bela Negara pada 19 Desember 2014.
"Upacara peringatan Hari Bela Negara di tingkat pusat rencananya diselenggarakan di Lapangan Silang Monas Jakarta dan langsung dihadiri oleh Presiden Joko Widodo yang sekaligus bertindak selaku inspektur Upacara," kata Dirjen Potensi Pertahanan Timbul Siahan saat Konferensi Pers 'Pencanangan Gerakan Nasional Bela Negara' di Kemenhan, Jakarta, Selasa (9/12).
Menurut Timbul, peringatan bela negara yang akan diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengenang berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 19 Desember 1958 di Sumatera Barat.
"Peringatan Hari Bela Negara tahun 2014 ini sudah diawali sejak bulan November dengan mengadakan kegiatan donor darah di tingkat pusat. Sedangkan di daerah dilaksanakan 9 Desember 2014," ujarnya.
Dia juga berharap dalam upacara peringatan Hari Bela Negara bisa mendapatkan penghargaan museum rekor Indonesia lantaran adanya pengibaran bendera Merah Putih sebesar 2.250 meter kubik.
"Akan digelar juga Gebyar Tarian Nusantara dari anggota Pramuka DKI Jakarta sebanyak 500 orang, terjun payung dan Paramotor," jelasnya.
[ian]
Saturday, December 06, 2014
Kapten Hendra Kho, Masuk TNI Terinspirasi Kakek
Tionghoa dan Militer Indonesia
Sudrajat - detikNews
Jakarta - Dengan kulit kuning mulus, wajah tampan, mata sipit, dan tinggi badan 180 senti meter, Hendra Kho sebetulnya layak menjadi aktor laga seperti Willy Dozan atau Andy Lau. Tapi dunia militer justru lebih menggoda batinnya. Selepas meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Trisakti, 2007, ia pun melamar ke TNI Angkatan Udara.
“Sejak kecil saya memang kepingin jadi tentara. Mungkin saya kepengaruh kakek, Kho Bak Tjoa, yang menjadi pejuang '45 di Riau. Beliau dapet Bintang Gerilya dari Presiden,” kata Hendra kepada Detik di sela-sela acara bedah buku 'Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran' karya Iwan Santosa di Gedung Joang 45, Kamis (4/12) petang.
Hendra yang kini ia bertugas di Bravo 90 TNI-AU, Bogor, berharap generasi muda Tionghoa di Indonesia tak sungkan masuk TNI. Dirinya telah membuktikan selama tujuh tahun berkarir tak pernah merasa ada sikap dan perlakuan diskriminatif dari teman-teman maupun atasannya. Hendra juga menepis anggapan bahwa keturunan Tionghoa yang menjadi anggota TNI pangkatnya akan mentok di Kolonel.
“Itu mitos, ada kok yang bisa jadi jenderal. Di TNI itu yang dihitung kompetensi, dedikasi, dan loyalitasnya. Bukan asal-usul etnis atau kesukuannya,” kata putra dari Djoni Kho dan Tjoa Ngang Heng itu.
Ia berharap, para orang tua agar memberikan dukungan penuh bila ada anak-anaknya yang bercita-cita ingin menjadi militer. “Ke depan, kalau kita mau mengabdi tak cuma di bidang ekonomi dan politik. Dunia militer terbuka lebar kok,” cetusnya.
Dari 256 orang lulusan perwira, Hendra tercatat menduduki peringkat ke-32. Dari 72 siswa matra udara, dia berada di urutan ketujuh dari 10 siswa terbaik.
Selanjutnya, Hendra ditempatkan di Korps Pasukan Khas (Pasukan Komando) TNI Angkatan Udara.
Hendra pernah mendapat anugerah tiga tanda jasa, yakni Dharma Nusa, Wira Dharma, serta Wira Nusa. Sebelum di Bravo 90, dia pernah menjabat Kepala Hukum Pusat Pendidikan dan Latihan Paskhas TNI AU di Bandung. Sejak Oktober tahun lalu, dia meraih pangkat kapten.
Saturday, November 22, 2014
22-11-1963: Misteri Kematian Presiden AS John F Kennedy
By Elin Yunita Kristanti
Liputan6.com, Dallas - John F Kennedy tak pernah menyangka, Jumat 22 November 1963 pukul 12.30 waktu Dallas, Texas akan menjadi saat terakhirnya. Dari mobil kap terbuka yang membawanya, Presiden Amerika Serikat itu sibuk melambaikan tangannya, tersenyum lebar ke arah warga yang berkerumun menyambutnya. Sesekali ia mengelap keringat yang mengucur di dahi.
Lalu terjadilah tragedi itu. Tiga peluru -- ada yang bilang 4 -- menerjang tenggorokan dan kepala Kennedy. Yang pertama mengenai bagian tenggorokan. Jackie Kennedy sontak panik. "Jack, Jack apa telah mereka lakukan padamu," desak dia.
Kemudian, dua tembakan menyusul. Mengenai bagian kepala. Memecahkannya. Jackie lalu memanjat bagian belakang mobil untuk mengumpulkan pecahan tengkorak suaminya itu.
Warga yang berkumpul di sekitar mobil kap terbuka yang membawa rombongan VVIP langsung tiarap dan berteriak saat mendengar suara tembakan. Lainnya berlari mengejar kendaraan Kennedy, mencari tahu apa yang terjadi.
Seorang agen dinas rahasia AS (Secret Service), Clint Hill yang bertugas melindungi Sang Ibu Negara menceritakan saat-saat mengerikan setelah insiden pembunuhan terjadi.
Saat itu ia mengaku berniat menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup Kennedy, dengan memanjat bagian belakang mobil. Namun terlambat, pecahan tengkorak Sang Presiden mengenai kemejanya.
Saat ia bergerak ke arah Jackie Kennedy, ia melihat reaksi perempuan itu. "Matanya dipenuhi teror," ungkap dia, seperti dimuat Daily Mail. "Ia berusaha menggapai sesuatu. Berusaha meraih bagian tubuh presiden yang tercecer."
Presiden Kennedy yang bersimbah darah dilarikan ke Parkland Hospital. Di mana para dokter berusaha sekuat tenaga menyelamatkannya di sebuah kamar operasi unit gawat darurat (UGD). Namun, terlambat.
Hill masih ingat, mata Nyonya Kennedy yang kosong, tak ada cahaya di sana. Terutama ketika dokter menghampiri mereka, dengan raut muka penyesalan.
Jackie kemudian berlari ke tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa. Setelah itu Ibu Negara tersebut memotong rambut suaminya dengan penuh cinta, memakai gunting yang dibawa agen rahasia. Gunting itu kemudian berlumuran darah.
Tuesday, November 11, 2014
Dibuatkan Tugu Patungnya, Ayah Menhan Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Elza Astari Retaduari - detikNews
Jakarta - Ayah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Mayjen (Purn) Musanif Ryacudu diabadikan sosoknya di tanah kelahirannya di Way Kanan, Lampung. Patung monumen Mayjen Ryacudu yang tinggi berdiri dibangun dan berdiri kokoh tak jauh dari kompleks Pemkab.
Masyarakat Sumsel dan Lampung sangat menghormati Mayjen Ryacudu yang merupakan pejuang kemerdekaan. Ia lahir di Mesir Ilir Bahuga, Way Kanan pada 28 Februari 1924 dan wafat pada tahun 1987 serta dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
"Kami atas nama Pemkab dan masyarakat Way Kanan mengusulkan Mayjen TNI Anumerta Musanif Ryacudu bukan hanya menjadi pahlawan daerah tapi juga pantas mendapat penghargaan menjadi Pahlawan Nasional," ujar Bupati Way Kanan Bustami Zainudin dalam acara Napak Tilas Mayjen Ryacudu di kompleks Pemkab Way Kanan, Minggu (9/11/2014).
Permintaan tersebut menurut Bustami dilakukan karena semasa hidupnya, Mayjen Ryacudu telah memimpin dan berperang membela bangsa dan negara dengan melakukan tindakan kepahlawanan. Ryacudu disebut menghasilkan prestasi karya yang luar biasa bagi kemerdekaan, pembangunan serta kemajuan bangsa dan negara.
Ryamizard sendiri mengaku tidak mengetahui perihal pembuatan patung sosok ayahnya. Ia pun mengaku tidak ikut-ikut terkait permintaan masyarakat daerah yang menginginkan ayahnya dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.
"Saya enggak ikut-ikut, keluarga tidak pernah ikut-ikut. Yang dibuat ada monumen bapak saya, itu saya juga tidak tahu, tidak ngurus. (Tahu-tahu) sudah ada. Semuanya adalah Pemda dan orang sana karena dulu di Lampung kan yang terkenal cuma 2, satu Pak Alamsyah, satu bapak saya," kata Ryamizard di Wisma Kemhan di Jl Bali, Bandung, Minggu (9/11/2014) malam.
Meski ayahnya saat berperang lebih banyak bergerilya di luar Sumsel, warga setempat menurut Ryamizard tak asing dengan sosok Mayjen Ryacudu. Menurut Mantan KSAD itu, ayahnya dijadikan ikon putera daerah
"Dia orang sana. Jadi tahu semua, Bapak saya dijadikan ikon lah. Jalan jembatan Ampera saja nama Bapak saya, itu sudah belasan tahun lalu, Jalan Musafi Ryacudu sudah sejak tahun 1990, sejak dulu, saat saya belum jadi apa-apa. Nama Ryacudu dijadikan nama RS, sudah lama," jelas Ryamizard.
"Mereka juga rindu. Di daerahnya harus ada ikon-nya, dibuatlah itu. Kebetulan saja saya jadi KSAD, jadi Menhan, enggak ada hubungannya sebetulnya," imbuhnya.
Mayjen Ryacudu merupakan pejuang kemerdekaan yang membantu operasi pembebasan Irian Barat. Ia mempertahankan kemederdekaan dari Agresi Militer Belanda di berbagai daerah dan sering keluar masuk hutan karena dikejar dan mengejar kolonial Belanda.
Bahkan Ryacudu sempat hampir terbunuh dalam usahanya menumpas penjajahan saat tertembak oleh Belanda di bagian paru-parunya. Perwira Tinggi Sepri KSAD pada tahun 1970 itu pun turut serta dalam operasi Penumpasan DI/TII, penumpaan PRIII/Permesta dan saat diterjunkan di Kalimantan, ia turun pada Operasi Dwikora saat Presiden Soekarno memutuskan perang melawan Malaysia.
Monday, November 10, 2014
Veteran Perang di Papua minta bantuan raskin ke pemerintah
Minim perhatian, ratusan legiun veteran di Semarang hidup miskin
Merdeka.com - Momentum peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, Senin (10/11), tidak banyak dirayakan oleh para pejuang veteran di Semarang, Jawa Tengah. Sebab, perhatian dari pemerintah yang terbilang sangat minim, membuat hidup mereka serba pas-pasan.
Ketua Legiun Veteran di Semarang, Suhartono, mengatakan, organisasinya selama ini mencatat ada hampir 1.000 orang pejuang veteran tinggal di Semarang. Namun sayangnya, dari jumlah sebanyak itu hanya sekitar 600 orang masih hidup. Sedangkan, sisanya telah meninggal dunia.
"Tapi, rata-rata mereka hidupnya pas-pasan dan berada dalam golongan masyarakat menengah ke bawah. Hanya satu hingga dua orang saja hidupnya layak," ujar Suhartono, kepada wartawan, di Semarang Jawa Tengah.
Saking miskinnya, tak sedikit pejuang veteran yang memilih menumpang di rumah sanak saudara. "Jumlahnya bisa dihitung dengan jari pejuang yang bisa hidup layak. Karena sekarang, mayoritas hidupnya menjadi satu di rumah saudaranya," imbuh Suhartono.
Lebih lanjut, Suhartono mengungkapkan, rata-rata legiun veteran yang ada di Ibu Kota Jateng pada zaman kemerdekaan, sempat membantu Indonesia saat perang Trikora di Irian Jaya (sekarang bernama Papua). Tak hanya itu saja, sebagian pejuang lainnya juga dikirim untuk membantu Indonesia dalam perang Dwikora ketika berkonfrontasi dengan Malaysia.
"Tapi, perhatian pemerintah pusat buat mereka sangat minim. Setiap pejuang yang meninggal dunia hanya diberikan tanda jasa dan sedikit uang," katanya.
Pemerintah, hanya menancapkan bambu runcing dengan bendera merah putih di setiap makam legiun veteran yang wafat. Bila bintang jasanya tinggi, maka pejuang bisa dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP). Namun, jika jasanya hanya dianggap biasa saja, maka jenazah pejuang hanya dimakamkan di tempat pemakaman umum.
Suhartono berharap, pemerintah era Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla ke depan bisa memberikan perhatian lebih kepada legiun veteran yang hidupnya pas-pasan.
[hhw]
FOLLOW
Friday, November 07, 2014
Sukarni Kartowirjo, Sosok Penting di Balik Sejarah Teks Proklamasi RI
Hardani Triyoga - detikNews
Jakarta - Sukarni Kartodiwirjo menjadi salah seorang tokoh pejuang dari Jawa Timur yang mendapat penghargaan gelar pahlawan nasional dari Presiden Joko Widodo. Pria kelahiran Blitar ini punya peran penting di balik sejarah proses pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI.
Saat prosesnya, Sukarni adalah sosok yang mewakili kelompok muda agar pasangan Soekarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945. Dia tidak menginginkan pasangan itu terlalu berpikir lama menyatakan kemerdekaan negara. Sejarah ini yang membuat kelompok pemuda harus melakukan ‘penculikan’ terhadap kedua pemimpin itu ke Rengasdengklok, Jawa Barat.
Sosoknya sejak kecil digambarkan sebagai orang yang membenci Belanda. Lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916, Sukarni punya catatan gemar berkelahi dengan anak-anak Belanda. Hal ini dilakukannya hampir setiap hari. Pola pikir membenci Belanda ini karena tertanam oleh gurunya yang juga tokoh pergerakan Indonesia saat itu, Mohammad Anwar.
Dengan pola pikir yang tertanam seperti itu, tidak mengherankan kalau Sukarni kelak menjadi remaja kritis dan punya nasionalisme yan tinggi. Saat usia 14 tahun, dia sudah bergabung dengan organisasi perhimpunan Indonesia Muda. Sejak itulah, sikap pejuang, kritis, dan tanpa kompromi semakin muncul. Sampai ketika Sukarni didaulat menjadi Keetua Pengurus Besar Indonesia Muda. Saat itu Sukarni baru berusia 20 tahun
Menjadi pimpinan kumpulan anak muda yang kritis, Sukarni menjadi incaran pemerintahan kolonial Belanda untuk ditangkap. Namun, dalam usaha penangkapan itu, dia berhasil melarikan diri hingga beberapa tahun ke depan. Tapi, beberapa tahun kemudian Sukarni tertangkap di Balikpapan, Kalimantan Timur. Begitu Jepang coba mengambil alih Indonesia, Sukarni dan beberapa temannya malah dibebaskan. Di era jajahan Jepang, Sukarni sempat bekerja di kantor berita Antara.
Kemudian, takdir juga mempertemukan Sukarni dengan Tan Malaka di masa jajahan Jepang. Sosok Tan Malaka ini yang membuatnya semakin berevolusioner terhadap perjuangan bangsa. Pertemuan ini juga menjadi cikal awal berdirinya Partai Murba. Sukarni juga didaulat menjadi Ketua Umum.
Hubungan antara Sukarni dengan Tan Malaka semakin erat ketika kedudukan pusat pemerintahan RI berada di Yogyakarta. Hubungan ini dibuktikan ketika Sukarni menjabat sebagai Sekjen Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. Karena sikapnya yang berani, Sukarni sempat dijebloskan ke penjara pada 1946 di Madiun.
Dalam riwayat hidupnya, Sukarni juga pernah ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok pada 1961.Dia juga pernah ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1967. Tokoh yang pernah mendapat penghargaan Bintang Mahaputra ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971.
Sunday, November 02, 2014
Kisah AK Gani, sang penyelundup penyelamat Republik Indonesia
Reporter : Ramadhian Fadillah
Merdeka.com - Presiden Jokowi telah melantik kabinet Kerja. Menteri-menterinya pun mengaku siap kerja, kerja, kerja dan menjauhi korupsi.
Ada cerita menarik tentang sosok Adnan Kapau Gani yang sering dipanggil AK Gani. Aksi-aksi penyelundupan yang dilakukan AK Gani telah menyelamatkan Indonesia dari embargo Belanda di awal kemerdekaan.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, bukan berarti situasi langsung enak. Belanda berniat kembali lagi menguasai Indonesia. Lewat Agresi Militer, mereka menguasai sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera dan wilayah lain. Ibukota RI terpaksa dipindah ke Yogya.
Belanda memblokade seluruh pelabuhan dan lapangan udara. Mereka ingin membuat ekonomi Republik muda ini hancur dan kelaparan.
Tapi aksi berani AK Gani dan sejumlah orang-orang berani lain berani menembus blokade militer Belanda. Risikonya sangat besar, pesawat atau kapal yang coba melewati blokade akan langsung ditembak jatuh atau ditenggelamkan. Paling ringan ditangkap dan seluruh muatan yang berharga disita Belanda.
Pertama, Gani menyelundupkan minyak-minyak mentah, dan hasilnya digunakan untuk membiayai birokrasi pemerintahan, termasuk melengkapi senjata militer. Tujuannya buat berjaga-jaga, bersiap menghadapi kemungkinan Belanda menyerang lagi.
Berkat Gani militer Indonesia kala itu memiliki seragam dan senjata, hasil selundupan.
Tak cuma itu, Gani juga menyelundupkan aneka hasil bumi ke Singapura. Bahan mentah seperti karet, kemudian ditukar amuninisi, tekstil dan obat-obatan. Dia juga yang membawa emas dan perak sumbangan dari rakyat Indonesia ke luar negeri untuk kemudian ditukar dengan bahan makanan dan senjata.
"Orang yang menyelundupkan perdagangan emas dan perak itu juga menyelundupkan 8.000 ton karet adalah Dr AK Gani. Belanda memberinya julukan raja penyelundup tapi rakyat Indonesia mengenalnya sebagai menteri perekonomian," puji Soekarno dalam biografinya, Penyambung Lidah Rakyat.
Aksi AK Gani membuat Belanda yang memblokade Indonesia kesal setengah mati.
Putra Sumatera Barat yang akhirnya menetap di Palembang ini juga pernah menjabat wakil perdana menteri pada kabinet Amir Sjarifuddin. Lalu menjadi menteri pertanian tahun 1946 hingga 1948.
Gani sempat menjadi Rektor Universitas Sriwijaya tahun 1954. Dia tetap tinggal di Palembang hingga meninggal dunia 3 Desember 1968.
Almarhum mantan Ketua MPR Taufik Kiemas selalu menganggap AK Gani sebagai guru politiknya.
Atas jasa-jasanya AK Gani diangkat menjadi pahlawan nasional.
Subscribe to:
Posts (Atom)














